Melawan Mafia Kelas Teri Tahura Dago

Sudah lama aku ingin menjelajah taman hutan raya terdekat, sebut saja namanya Tahura Dago. Hingga suatu titik, aku bisa merealisasikannya dengan personil perjalanan sebanyak empat orang, aku, Ajeng, Nindy, dan Astin. Ajeng dan Nindy adalah adik dan sepupuku yang sedang berlibur ke Bandung dan nantinya menyumpah-nyumpah kepadaku karena mengajak mereka mendaki gunung lewati lembah. Sedangkan Astin sebagai anak geologi sudah terbiasa dengan studi lapangan. Dan aku sendiri memang lebih suka penjelajahan alam daripada penjelajahan mall, yang tidak bisa sabar. Berbagai macam karakter ini berkumpul di pagi itu dan harus berhadapan dengan mafia ikan teri Tahura Dago, bagaimana kisahnya?

Perjalanan masih terasa wajar saat kami memasuki gerbang dan harus membayar Rp 12.000,00/orang. Kami langsung riuh dan bersemangat karena harga yang harus ditebus untuk beberapa wahana di Tahura Dago cukup murah. Perjalanan dengan Ajeng seperti biasa diisi dengan foto-di-setiap-detik-dan-setiap-langkah! Sebagai fotografer dadakan aku bersyukur memiliki adik perfeksionis tentang hasil foto. Bayangkan, suatu hari dia pernah benar-benar marah saat aku mengambil foto dan hasilnya ia terlihat gendut. Apakah itu salahku? Maksudku, ya mungkin memang sudut pengambilanku kurang benar tapi kenyataannya dia memang gendut. Huft. Syukurlah hari ini semunya baik-baik saja hingga negara api datang…

Kami mencapai destinasi pertama, Gua Jepang yang terlihat angker dari namanya. Tiba-tiba seorang mas-mas berpakaian serba rapi menghampiri kami berempat yang terlihat ragu-ragu untuk melangkah ke dalam gua. Ia berbicara panjang lebar sekaligus ramah dan tak lupa menyodorkan senter. Sontak Ajeng dan Nindy menerima senter tu dengan tangan terbuka. Aku yang paling sadar segera meninggikan suara (sok galak haha), “Senternya bayar berapa, Mas?” Dengan ragu-ragu ia menjawab, “Senternya cuma Rp 5.000 aja, Mbak. Kalo jasa guide seikhlasnya aja mau kasih berapa.” Mendengar jawaban itu, rasanya aku ingin berpura-pura tidak dengar saja. Sembari melengos aku berbisik agak keras ke Ajeng dan Nindy dan agar Mas ala guide itu dengar, “Pakai senter HP aja, kita kan punya.”

Mas ala guide ini tidak mau kalah, ia segera mengikuti kami dengan langkah lebih berani. Iya, kami tahu kami memang semuanya penakut dan melangkah dengan ragu-ragu. Ia mendekat dan segera menjelaskan panjang lebar, entah salah atau benar. Aku tetap menanggapinya jutek. Ajeng terlewat ramah. Tidak perlulah baik dengan orang yang belum kita tahu motifnya apa. Aku memang insecure dengan orang yang sok kenal.

Selesai tur singkat dan penuh kegelapan di dalam gua yang lembab dan berlorong-lorong, kami keluar. Ia belum pergi juga. Sudah kusibuk-sibukkan diri dengan berfoto-foto. Ia tetap bergeming. Ajeng mulai mengedip-ngedip mata ke arahku. Aku pura-pura tidak melihat. Astin masih sibuk mewawancarai Mas ala guide. Aku ingin segera keluar dari situasi ini. Hooooosh! Ajeng mulai kehilangan kesabaran karena aku tidak lantas menangkap kodenya. Memang aku berpura-pura tidak tahu kedipan dia saja, sih. Ia atau Astin yang akhirnya bertanya, membuka harga. Mas ala guide menetapkan harga yang tidak manusiawi: Rp 10.000,00/orang! Gila kami dipalak!

Aku ogah mengeluarkan uang, jelas-jelas kita dipalak!

Kepalang tanggung, Ajeng akhirnya merogoh dompet dan menyerahkan Rp 50.000,00 untuk kami berempat. Rasanya aku sudah mau meledak dalam diam. Dan, masih saja ketiga orang rombonganku ini berbaik-baik hati dengan Mas ala guide ini. Secepatnya aku mengajak pergi. Kami pun pergi. Selang beberapa ratus meter kami berjalan, kami diselip oleh motor ojeg. Beberapa menit selanjutnya ojeg itu kembali lagi dari arah depan kami. Dan dengan jelas kami bisa melihat wajah mas-mas ojeg ini: Mas ala guide!!!!!

Kami mengumpat dalam hati. Dan berusaha mengikhlaskan uang yang baru melayang begitu saja. Agar lebih produktif, umpatanku sudah kutekadkan akan kutelurkan menjadi tulisan ini. Perlawanan lewat tulisan ini semoga efektif. Bagi siapapun yang berkunjung ke Tahura Dago, terutama Gua Jepang, baca peringatanku baik-baik: jangan terjebak mafia kelas teri Tahura Dago alias Mas ala guide!

Advertisements

Salam Kenal, Jakarta!

Fiuh, Januari sudah habis ya?

Padahal aku belum menulis apa-apa di bulan kemarin. Padahal sudah terlalu banyak apa-apa yang ingin aku tulis di bulan kemarin. Ya, jadi disinilah aku sekarang.

Alhamdulillah aku menjadi perantau lagi, bukan di Bandung tapi benar-benar ke Jakarta. Masih ingat kan betapa aku sangat takut membayangkan hidup di kota metropolitan yang sarat dengan banjir dan macet? Bisa-bisa aku memang akan tua di jalan seperti umpatan orang-orang yang terlebih dahulu bermandi lumpur hidup di Jakarta. Tak apalah, toh aku tidak terlihat tua, kan?

Aku menjadi pekerja kantoran. Idealisme mulai luntur ya? Haha, bukan seperti itu. Jiwaku memang free-spirit tapi bukan berarti aku tidak bisa hidup dalam rutinitas. Selama rutinitas ini membuatku tetap hidup, aku akan bisa bertahan. Bekerja di penerbit buku membuat sebagian orang mendelik, merasa kasihan padaku karena bekerja tidak sesuai gelar. “Yaudah sabar ya, Monc. Sambil cari-cari kerjaan yang sesuai bidang” Eh? Justru aku tidak mau bekerja sesuai bidang, batinku dalam hati. Tidak. Bukan berarti aku tidak menghargai profesi kesehatan dan ilmu yang kukejar di pendidikan formal selama ini. Lagipula aku yakin belajar akan kita lakukan sepanjang hayat, pun diluar kelas formal. Hanya saja, naluriku berbisik bahwa aku tidak akan bisa bertahan di dunia kefarmasian. Bukankah sesuatu memang harus dikerjakan oleh masing-masing ahlinya agar tidak terjadi kehancuran. Hmm.. kejauhan. Ya, intinya aku memang merasa tidak akan berkembang dan makin tersiksa di bidang farmasi.

Pertama, aku mencintai bidang kesehatan. Namun sayang, arah pengobatan yang aku pelajari selama ini mengarah ke pengobatan modern berbasis bahan kimia. Aku hanya tidak suka. Aku lebih menyukai pengobatan tradisional. Perlu juga digarisbawahi, aku bukan orang munafik yang menolak semua pengobatan modern. Aku hanya tidak suka. Bagaimana aku bisa bekerja untuk sesuatu yang hatiku bahkan menolak untuk melakukannya? Jadi, sebisa mungkin aku tidak bersinggungan dengannya *peace!*

Apakah aku menyesal seolah salah jurusan 5 tahun terakhir berkuliah di farmasi? Oh tentu saja tidak. Justru di ITB aku mempelajari banyak hal di samping kuliah. Memang seperti miniatur Indonesia, berbagai agama, ras, budaya, dan aliran semua dapat kutemukan di ITB. Begitulah pikiranku banyak bertumbuh disana.

Kini aku terdampar di dunia penerbitan buku yang dulu aku pernah terlintas untuk menjadi bagiannya. Seorang book worker. Aku suka membaca, lalu seiring waktu aku juga mulai suka menulis. Dan, disini aku bertemu dengan orang-orang yang hampir sama kegilaannya dengan buku. Bedanya, mereka sudah sangat jauh berwawasan, apalah awak ini…

Aku bekerja di Noura Books, salah satu penerbit di Mizan Group yang berfokus pada buku-buku terjemahan, fantasi, anak, dan agama. Buku-buku yang diterbitkan sangat bernutrisi dan berkelas dunia, semoga aku memang benar-benar menjiwai pekerjaan ini. Aku bernaung di bawah bidang promosi, bagian digital marketing. Tapi, aku lebih suka memakai istilah publisis. Jadi, sekarang pekerja kantoran? Iya, tapi dengan orang-orang yang hangat seperti keluarga (banyak yang iseng juga sih) dan jarang berpoles make up. That’s I love the most here!

Masih bulan pertama yang penuh adaptasi dan kebingungan disana-sini, aku terus belajar. Bertemu penulis-penulis hebat seperti Bondan Winarno adalah suatu kebahagiaan tersendiri. Apalagi bisa membaca karyanya bahkan sebelum buku iu dirilis di toko buku. Yap, begitulah sedikit banyak pekerjaanku: mengulas dan mempromosikan buku-buku baru Noura. Tidak hanya penulis tersohor, penulis cerpen pun setiap hari aku berinteraksi dengannya. Ternyata mereka selucu itu ya di balik tulisan-tulisannya yang mendalam haha. Halo mas-mas dan mbak-mbak yang merasa aku bicarakan disini! Salam kenal semua, salam kenal Jakarta! 😀

How to Make A Bloody STRTTK In Two Days

STRTTK adalah Surat Tanda Registrasi Tenaga Teknis Kefarmasiaan yang dapat dimiliki oleh sarjana farmasi, ahli madya farmasi, dan analis farmasi. Pun seorang sarjana farmasi, aku baru tahu tentang hal ini karena sebelumnya aku tidak tertarik pada bidang pekerjaan berbau farmasi. Sudah paham alasannya kan? Namun sekarang aku mencoba lebih bersahabat dengan bidangku ini. Seorang teman dekat, sebut saja Cholid, merasa aku kurang memiliki semangat hidup saat ini tanpa pekerjaan (lebay wkwk). Ada benarnya juga, kali ini aku balik menjadi parasit yang menggantungkan hidup pada mama dan papa. Tidak salah karena aku masih anak perempuan tanggungan mereka, tapi ini menyalahi aturanku: aku harus sudah bisa mandiri finansial sejak kuliah atau lulus kuliah. Pada hari itu, Cholid mengatakan bahwa di klinik perusahaan tempat ia bekerja dibutuhkan seorang asisten apoteker, aku disuruhnya mendaftar. Setelah membaca syarat-syaratnya, aku menemukan singkatan baru itu: STRTTK!

Akhirnya aku memutuskan untuk mengurus surat tersebut, toh tidak ada ruginya menyimpannya nanti. Lalu jalan panjang menuju langit biru pun dimulai…

Hari ke-1

Setelah berselancar di internet, tujuan utama hari ini adalah Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur di Jalan A. Yani 118, Surabaya. Sebelumnya aku tidak membawa berkas apapun karena aku pikir akan ada formulir yang akan diisi dari sana. Sesampainya di TKP satpam di gerbang depan mengarahkan kami (aku dan papa, red.) menuju gedung MTKP (Majelis Tenaga Kesehatan Provinsi) di sisi kiri. Sementara papa memarkir mobil, aku menuju kerumunan orang yang sibuk membawa map. Dalam hati aku bertanya-tanya, mereka akan melamar pekerjaan atau datang dengan tujuan sama denganku? Setelah celingak-celinguk sebentar, aku menemukan objek yang dapat diabadikan (bukan sedang menjalankan hobi fotografi, ya). Segera kubacai dengan teliti dan kufoto syarat-syarat pembuatan STRTTK untuk kami di Provinsi Jawa Timur. Syarat-syaratnya (per tanggal 28 November 2016) antara lain:

  1. Permohonan atas nama pemohon
  2. Fotokopi KTP/SIM/Paspor
  3. Fotokopi ijazah sarjana farmasi, ahli madya farmasi, analis farmasi, tenaga menengah farmasi, atau asisten apoteker
  4. Surat keterangan sehat fisik dan mental dari dokter yang memiliki izin praktek
  5. Surat pernyataan akan mematuhi peraturan perundang-undangan dan melaksanakan etika kefarmasiaan
  6. Surat rekomendasi kemampuan dari apoteker yang memiliki STRA atau pimpinan institusi pendidikan lulusan, atau organisasi yang menghimpun tenaga teknis kefarmasiaan (untuk farmasi adalah PAFI, red.)
  7. Pas foto berwarna latar belakang merah terbaru ukuran 4×6 (2 lembar) dan 3×4 (2 lembar)
  8. Dilakukan oleh pemohon sendiri
  9. Khusus pemohon suami/istri dapat diwakilkan kepengurusannya dengan bukti fotokopi surat nikah atau KSK
  10. Khusus untuk lulusan sekolah kesehatan diluar Provinsi Jawa Timur:
    • Ijazah asli
    • Transkrip asli
    • Kontrak kerja atau surat keputusan bekerja di sarana kesehatan  di Jawa Timur

“Lumayan ya syarat-syaratnya,” aku hanya bisa menarik napas panjang. Perjalanan dilanjutkan menuju tempat print dan fotokopi di dekat rumah, aku sibuk hampir dua jam. Syarat-syarat persuratan dan perfotokopian selesai. Syarat nomor 6, aku meminta bantuan Kikiq untuk memberi rekomendasinya. Kikiq adalah teman kuliah yang sekarang berdomisili di Surabaya mengikuti suaminya, Mas Rifki (anak ITS, red.) Sementara Kikiq masih memasak, aku sudah mengirimkan surel format surat rekomendasi ke alamat surelnya. Kami (aku, papa, dan Ajeng, red.) berbelok sejenak di rumah budhe di daerah Juanda karena rumah Kikiq dekat dengannya, Sedati. Urusan dengan Kikiq ternyata tidak bisa sebentar, kami masih berbincang-bincang sekitar sejam, hingga jam menunjukkan hampir pukul tiga tepat. Dinkes. Sudah. Hampir. Tutup.

Melaju mengarungi terik Surabaya kembali ke Dinkes, syukurlah kami masih diterima. Dengan wajah sumringah, aku sudah siap menyerahkan berkas-berkas yang kukerjakan hari ini. Namun, aku ditolak dengan dalih pengurusan STRTTK untuk dokter, dokter gigi, dan farmasi dilakukan di P2T (Pusat Pelayanan Terpadu) di Jalan Pahlawan 116, Surabaya. Fiuh. Satu jam tidak akan cukup ditempuh bermobil kesana mengingat macetnya Surabaya yang sudah hampir-hampir seperti Jakarta.

Perjalanan hari ini diakhiri sementara.

Hari ke-2

Pagi-pagi sekali aku sudah bersemangat menuju gedung P2T. Selain karena gedung itu merupakan salah satu cagar budaya yang masih dipertahankan, juga hari ini aku akan mendapatkan STRTTK-ku yeay!

Tidak jauh berbeda keadaannya dengan saat di MTKP, memasuki gedung P2T manusia sudah banyak. Antrian sudah sampai ke nomor 23. Saat akan mengambil nomor antrian, aku diarahkan satpam untuk melengkapi formulir dan syarat-syarat lain terlebih dahulu. Oya, jangan lupa menyiapkan materai dua buah dan map berwarna pink untuk berkas kita (farmasi). Formulir yang kuiisi adalah surat-surat yang aku cetak kemarin siang di tempat print. Ououooo hidup ini penuh tipu daya~

Seandainya kemarin aku masuk ke gedung MTKP dan menanyakan lebih dini, maka kejadian mubazir ini tidak akan ada. Berusaha menghibur diri sendiri, aku tersenyum masam. Syukurlah aku ditemani Ajeng yang bisa menjadi biang tertawa di saat-saat menyebalkan seperti ini. Singkat cerita, aku menyerahkan formulir ke petugas di dekat nomor antrian. Beliau menyuruhku berkonsultasi dulu dengan petugas yang lain setelah mengetahui aku bukan lulusan Jawa Timur. Kecurigaan akan ketidakberesan mulai menggema dalam hati.

Aku ceritakan bahwa aku lulusan kampus di Jawa Barat, namun KTP-ku adalah KTP Jawa Timur, maka dari itu aku mengurus STRTTK disini. Sayangnya, logikanya tidak demikian. STRTTK hanya bisa dikeluarkan dimana tenaga teknis farmasi bekerja, adapun jika belum bekerja STRTTK hanya bisa dikeluarkan di provinsi dimana ia lulus. Aku pulang dengan tangan hampa. Te ri ma ka sih.

Kesimpulannya, hingga detik ini aku belum memiliki STRTTK dan lamaran yang kuajukan ke klinik PT ANTAM sudah resmi tidak lolos kualifikasi. Cholid mengatakannya ragu-ragu. Kamu tahu, semua berkas lamaran ke klinik itu (kecuali STRTTK) aku scan dan surelkan padanya, ia yang selanjutnya mencetak dan mengumpulkannya di Pongkor, Bogor. Sungguh perjuangan yang…. cukup pelik. Akhirnya, aku memutuskan akan mengurusnya di Bandung insya allah saat aku ke Bandung. Untuk kamu yang sedang membuat STRTTK juga, selamat berjuang!

Catatan: Syarat-syarat pembuatan STRTTK tiap provinsi sedikit banyak ada perbedaan, berselancarlah banyak-banyak terlebih dahulu.

Pertemuan dengan Enin

Bagaimana rasanya jika kamu ingin sekali bertemu dengan seseorang yang tidak mungkin lagi bisa ditemui?

Siang ini aku terlalu malas untuk melangkahkan kaki jauh-jauh. Namun masalahnya aku lapar dan harus segera mengisi perut. Akhirnya jatuhlah pilihan untuk makan di warung kecil di dekat gang kosanku. Setidaknya aku tidak pingsan terlebih dulu karena kehabisan tenaga untuk mencapai tempat makan terdekat itu.

Aku melihat ke dalam. Kali ini yang berjaga di warung makan itu adalah nenek-nenek, tidak seperti biasanya. Aku memesan menu yang sederhana, mie goreng dan telur goreng. Rasanya perutku tidak cukup serius untuk makan nasi dan lauk-pauk ala empat sehat lima sempurna. Sang nenek menanyakan detail pesananku dengan bahasa Indonesia yang terkesan kaku. Iya, orang tua-orang tua di Bandung memang lebih terbiasa berbahasa Sunda. Aku lebih memilih menimpalinya dengan Bahasa Indonesia karena aku khawatir bahasa Sunda yang terlontar dari mulutku bukan yang luwes, melainkan yang pantas diucapkan pada sebaya. Sambil memasakkan pesananku terdengar suara, “Niiiin…” diiringi seorang bocah lelaki masuk ke dalam warung. Bocah lelaki ini pasti cucu nenek, pikirku. Benar saja, keduanya terlihat akrab. Dari sedikit percakapan, bocah kecil ini minta digorengakan ayam. Namun enin hanya bisa menggoreng setelah beres menggoreng telor untukku. Enin meminta cucunya untuk menunggu sebentar, bocah itu menangguk polos. Aku tersenyum-senyum melihat itu. Aku teringat ibukku (baca: nenek dari mama) yang akan memperlakukanku tidak jauh beda seperti enin memperlakukan cucunya ini.

Selang beberapa menit, pesananku telah jadi. Aku mengucap terima kasih seraya menerima semangkuk mie goreng hitam dari tangan nenek. Bagaimana nenek bisa tahu kalau aku sangat tergila-gila dengan kecap? Di mangkukku mie goreng hitam ini sarat dengan tambahan kecap, aku mengerjap senang. Melanjutkan pesanan, aku meminta minuman dingin kepada beliau. Seketika itu datanglah cucu nenek yang lain, aku taksir seumuran siswa SMP. Nenek menyuruh cucu perempuannya itu untuk membuatkan minuman pesananku, ia beralih ke urusan ayam goreng untuk cucu lelakinya. Sambil masih terus makan, minumanku diantarkan oleh cucu perempuan nenek. Perlahan-lahan suara-suara mereka hilang, berpamitan satu-persatu pada nenek untuk pergi ke sekolah.

Aku pun selesai menghabiskan seporsi makanan di hadapanku, saat itu aku mulai mengajak nenek mengobrol.

Aku: Itu cucunya, Bu?

Nenek: Iya, pada mau sekolah tadi.

Aku: Oh hari Sabtu juga sekolah ya? (aku ingat ritual sekolah di Surabaya yang liburnya Sabtu dan Minggu)

Nenek: Iya..

Tak kuduga nenek bercerita panjang lebar tentang keluarganya. Ia berkata bahwa ucu perempuannya itu seharusnya sudah kelas VIII SMP, namun karena harus menunggui ibunya yang sakit ia baru kelas VII SMP sekarang. Aku menerawang jauh ke masaku bersekolah SMP. Tak sedikitpun gangguan kutemui apalagi seberat yang dihadapi adik yang baru kulihat tadi. Tidak hanya itu, kedua orang tua cucu perempuannya itu telah berpisah. Mataku berkaca-kaca. Entah karena aku menemukan raut tua ibukku yang telah tiada pada raut nenek atau karena kisah yang baru aku dengar ini. Semakin nenek bercerita, mataku semakin panas. Ternyata rasa kangenku pada ibuk tidak pernah berkurang sejak kepergiannya. Apalagi jika aku menemukan sosok ibuk di orang lain. Hangat.

Setelah mengobrol lama dengan nenek, ada motor yang berhenti di depan warung. Seorang anak kecil berseragam SD lengkap turun dan masuk berpamitan pada nenek. Nenek memberi uang saku kepada si bocah kecil seraya berkata, “Salim dulu sama teteh!” Bocah itu menurut dan tanganku diciumnya. “Sekolah yang pinter ya, kelas berapa sekarang?” tanyaku tak terduga. “Kelas satu,” ia menjawab sambil berlalu pergi dan bergegas naik ke boncengan sepeda motor. Nenek melepas keberangkatannya, lalu kembali masuk ke warung. Aku diberi waktu sejenak untuk menyapu pandang ke peralatan makan disana yang mengingatkanku pada sesuatu. Aku ingat ada beberapa tempat makan plastik dan piring-piring kaca yang berlebihan di kosan. Peralatan makan itu kudapat dari mama yang hobi membekaliku piranti kecil-kecil dari rumah. Tapi banyak juga yang kudapat dari gratisan sabun deterjen. Lalu kutawarkan ke nenek apakah ia mau menerima sedikit pemberian dariku, aku rasa benda-benda itu akan lebih bernilai guna disini. Tidak kuduga, nenek senang sekali mendengarnya, “Ya mau atuh, Neng..” Bergegas aku membayar makananku dan izin pulang untuk mengabil barang-barang yang kumaksud. Saat kuserahkan barang-barang itu ke nenek ia kaget akan jumlah yang ia sangka tidak sebanyak itu. Malu-malu ia bertanya, “Berapa ini, Neng?” aku menggeleng dan berkata lirih bahwa ini gratis. Beliau tersenyum lebar dan mengakhiri pertemuan kami siang itu dengan doa-doa baik yang dipanjatkannya untukku dalam bahasa Sunda. Dari terjemahanku, kira-kira begini artinya, “Semoga Neng sukses ya, dimanapun berada..” Aku mengaminkan seribu kali.

Bagaimana rasanya jika kamu ingin sekali bertemu dengan seseorang yang tidak mungkin lagi bisa ditemui? Berdoalah! Dan Ia akan MEMPERTEMUKANMU dengannya melalui cara yang tak terduga.

Tujuh Belasan di Borneo, 2015 (2)

Hari #3 – 16 Agustus 2015

Wacana untuk berkunjung ke Desa Busui batal. Desa Busui adalah desa binaan dimana teman-teman Mapala Cadas.com pernah mengajar disana. Ya aku memang jauh lebih menyukai liburan yang bermandikan keringat dan sinar matahari dibanding liburan cantik. Oleh karena itu Andy ingin mengajakku untuk bertemu anak-anak disana dan mengobrol dengan tetua adat disana. Isn’t it interesting?

Namun setelah dilobi-lobi pun teman-teman Cadas tidak kuasa melawan rasa letih  yang akan dihadapi. Bukan karena letak desa ini yang memang cukup jauh, namun perjalanan kesana yang butuh perjuangan ekstra. Kami harus mengompreng. Jika kamu belum tau apa itu mengompreng, mari simak sedikit definisi dariku. Ompreng adalah menumpang dari satu kendaraan ke kendaraan lain demi mencapai tujuan. Kendaraan yang dimaksud untuk kali ini adalah truk! Bayangkan saja seandainya tidak ada truk yang lewat, pun ada yang lewat dengan tujuan yang berbeda dari tujuan kami, berapa lama perjalanan yang akan ditempuh? Atau berapa kendaraan yang harus kami naik-turuni? Demi alasan itu semua orang di sekret berpura-pura tidak dengar saat Andy mengutarakan maksudnya mengajak mereka ke Desa Busui (hehe). Dan aku cukup berbangga karena telah lolos uji ompreng dari Bos Andy saat di Halmahera kemarin. Ada perasaan puas tersendiri saat lambaian jempol kananmu direspon positif oleh supir kolbak 😀

IMG_20140502_111004
Masa-masa ngompreng kolbak ft. Bos Andy dan Mbak Sum di Halmahera Selatan
IMG_20140502_090940
Masa-masa ngompreng kolbak ft. Bos Andy dan Mbak Sum di Halmahera Selatan

Akhirnya pagi ini kami bermotor ke kota sebelah, Samarinda! Tidak tanggung-tanggung, kali ini perjalanan yang harus ditempuh adalah 4 jam tanpa macet dan lampu merah. Murni 4 jam. Jadi bolak-balik kami menghabiskan waktu 8 jam perjalanan motor, ditambah berkeliling-keliling di Samarinda sekitar 4 jam juga. Jadi, 12 jam akan kami tempuh di atas motor. Aku hampir pingsan ketika Andy menyampaikan estimasi perjalanan nanti. Perjalanan dimulai saat matahari belum tampak dan diakhiri saat matahari sudah tidak tampak lagi. Tujuan pertama adalah Museum Mulawarman di Tenggarong, Kutai Kartanegara yang ternyata masih tutup saat kami sampai disana. Akhirnya kami memutuskan untuk sarapan kesiangan terlebih dahulu, demi kuat menghadapi ganasnya hari ini. Saat itu jam 09.30.

IMG_20150816_101822
Touchdown Tenggarong, Kutai Kartanegara setelah bermotor 4 jam!

Museum Mulawarman adalah sejarah yang kuhidupkan kembali. Aku ingat bagaimana aku menginsyafi bahwa Kutai adalah kerajaan besar di Indonesia dari buku pelajaran SMP. Namun hari itu alhamdulillah aku menginjak tanah Kutai Kartanegara dan menilik sejarah itu langsung. Di depan museum, ada patung lembu yang ternyata bernama Lembuswana. Menurut artikel Natgeo yang aku baca, Sang Lembuswana merupakan tunggangan Mulawarman yang bertahta di Kutai sekitar 1.500 tahun silam. Sebelum mencapai museum, kami melewati tepian Sungai Mahakam. Amboi Sungai Mahakam! Kamu akan mengerti dan paham perasaanku ini jika kau juga mencintai sejarah. Sebagai pendatang dengan polosnya aku bertanya pada Andy, “Ini laut apa ya?”, lalu dari sana Andy menjelaskan (baca: meledek) bahwa itu bukan laut tapi sungai. Aku menganga, sungai tidak mungkin sebesar ini, kan? Di tengah-tengah Sungai Mahakam terlihat sebuah delta, lebih besar dari delta: Pulau Kumala yang ternyata disana juga dihiasi oleh patung Lembuswana.

IMG-20150824-WA0001
Di depan patung Lembuswana

Apa yang harus kuceritakan tentang Museum Mulawarman, aku terlalu terpana dengan sejarah mereka. Saat memasuki pintu museum, kita disuguhi kursi kebesaran raja-raja Kutai, perpaduan merah dan kuning begitu mewah. Lalu jalan terbagi menjadi dua, sisi kiri dan kanan. Aku membaca-baca semua tulisan disana, memutar balik waktu seolah aku sedang hidup di kerajaan tertua ini. Semakin menuju pintu keluar, pajangan yang ditampilkan semakin modern. Ulasan mengenai ulap doyo, kain tenun khas Kalimantan Timur yang harganya tidak masuk akal juga aku temui disana. Tingginya harga ulap doyo dikarenakan bahan yang digunakan untuk menenun adalah rotan yang dipilin halus. What an authentic!

Sudah puas berkeliling museum, perjalanan dilanjutkan ke pasar etnik di sebelahnya. Aku. Ingin. Membeli. Semua. Yang. Kulihat!

Tidak jauh berbeda dengan Pasar Kebun Sayur, semua yang dijual disini bernilai seni. Artsy. Syukurlah aku sudah memenuhi kebutuhan belanjaku di hari pertama kemarin, jadi hari ini niat berbelanja pupus. Uang di dompet sudah tidak bersahabat.

Di terik yang melelahkan itu, kami bermotor membelah jalanan Tenggarong, masih menyusuri Sungai Mahakam. Masih di sungai yang sama, aku melihat penampakan Golden Gate di San Fransiscoitulah jembatan Kutai Kartanegara. Dari mana saja aku hingga baru tahu kalau jembatan itu cukup tersohor di Indonesia. Jembatan ini adalah jembatan gantung terpanjang di Indonesia yang membentang sepanjang 710 meter. Ditambah kabar putusnya tiga tahun lalu yang menelan korban tiga orang meninggal dunia membuat aku semakin bertanya-tanya. Seapatis itukah aku terhdap dunia luar selama aku berkuliah di farmasi? Jembatan ini menghubungkan Sungai Mahakam antara Kutai dan Kutai Seberang, menuju Samarinda. Belum bisa difungsikannya jembatan itu, mengharuskan kami naik kapal ferry kecil atau kelotok untuk mencapai seberang. Namun karena sensasi alam lebih terasa jika naik kelotok, Andy mengajak untuk naik itu saja (juga karena murah meriah 😀 )

Sekitar 15 menit terapung-apung di atas Mahakam, kami mencapai Kutai Seberang. Dan akhirnya Samarinda dapat dicapai dua jam kemudian dari sini. Belum usai, untuk mencapai Kampung Dayak Pampang, Samarinda dibutuhkan sekitar satu jam lagi. Semuanya ditempuh dengan motor, tanpa macet dan tanpa lampu merah. Murni per-ja-lan-an.

Sesampainya di Kampung Dayak Pampang, Samarinda aku makin tidak tahu harus berkata apa. Sedikit berlebihan, banyak benarnya. Mereka nyata. Rumah lamin, tangga dari kayu, tembok penuh ukiran, dan warga-warga lokal yang berbaju khas Suku Dayak. Sejujurnya ini bukan tujuan utamaku, karena aku ingin berinteraksi dengan warga lokal secara alami bukan yang artificial seperti ini. Namun sejauh ini semuanya sudah menyenangkan, ditambah penjelasan Andy yang logis bahwa tidak mudah menemukan Suku Dayak di kota. Artinya untuk memenuhi keiginanku itu dibutuhkan waktu yang lebih lama dan penjelajahan masuk ke hutan tempat mereka hidup lebih jauh lagi.

IMG_20150816_154840
Sumpah panasnya sampai ubun-ubun! Wajib banget bawa kacamata hitam biar bisa melek XD

Setiap Minggu warga Pampang memang mengadakan pertunjukan di dalam rumah lamin ini dari pukul 14.00-16.00, mengingat mereka telah menjadikan kampungnya tujuan wisata. Aku bersyukur menjadi salah satu penonton yang disuguhi sepuluh tarian dalam iringan alat musik khasnya bernama sampeqSampeq adalah alat musik berdawai mirip gitar namun berbentuk lonjong dan ujung bulat. Semakin alat musik itu dimainkan, semakin kagum aku mendengarnya.

Setelah semua rangkaian acara selesai, kami harus segera kembali ke Balikpapan. Malam ini jadwal Neus mendarat di Bandara Sepinggan. Dengan sisa-sisa tenaga, kami berangkat menjemput Neus. Neus mendarat agak terlambat. Ia dibonceng Andy dan aku dibonceng Obor, kami menuju sekret kembali. Sekret masih ramai dengan teman-teman yang sudah menunggu kedatangan Neus. Fiuh akhirnya sejak detik itu ia yang menjadi artis, pusat semua pertanyaan teman-teman ditujukan. Tapi sedikit banyak aku yang masih berperan menjadi penerjemah. Lagi. Aku yakin teman-teman cukup pandai berbahasa Inggris, namun karena lama tidak digunakan mereka agak malas berceloteh dengannya. Harusnya aku minta bayaran di akhir ya, bon bagi jasa penerjemah.

Hari #4 – 17 Agustus 2015

TUJUH BELASAN DI BORNEO!!!

Aku ingat tujuh belasan tahun 2014 aku jalan-jalan di Ciwalk dengan sorang teman (lupa) dan berandai-andai tahun depan menabung dengan bijak. Cita-cita tiba-tiba ini muncul saat kami melihat diskon 50% produk Converse dan berakhir dengan hanya tangan kosong. Namun nyatanya setahun kemudian aku terdampar disini. Jauh dari peradaban mall, justru aku berkumpul bersama teman-teman baru. Ditemani suara jangkrik dan hamparan luas kampus STT Migas yang baru jadi sebagian dan direnovasi sebagian.

Petualangan pagi ini berbeda komposisi. Partner perjalananku adalah Bang Rahul dan Neus berpartner Bang Nihil. Sarapan di Pasar Kebun Sayur sudah membuat Neus cukup excited. Ia memfoto coto Makassar yang akan kami santap, tapi aku tidak yakin apakah ia akan suka dengan rasanya. Setidaknya makanan ini tidak jahat, aku ingat Neus sempat sakit perut saat pendakian ke Rinjani. Ia membuatku sangat khawatir saat mengatakan ia sedang dalam kondisi yang tidak baik, ia berharap ada aku di sebelahnya. Apa yang bisa kulakukan? Menyeberangi lautan menuju Lombok dari Balikpapan? 😦

Setelah adegan makan pagi selesai, kami melanjutkan berkeliling di Pasar Kebun Sayur untuk mengantarkan Neus membeli oleh-oleh. Seketika otak bisnisku menggerung, aku mendata siapa saja teman yang ingin menitip kain batik Kalimantan. Selain Neus, akupun jadi ikut ribut. Syukurlah Bang Rahul dan Bang Nihil cukup sabar dan mau menungguiku. Bahkan detik-detik sebelum aku mengejar pesawat, Bang Rahul masih mau mengantarkanku mampir ke pasar itu lagi demi membeli kekurangan pesanan seorang temanku. Terima kasih, Bang!

Demi merasakan nuansa tujuh belasan yang hakiki, Andy yang hari ini tidak turut menyertai perjalanan menyarankan kami ke rumah Kak Fitri. Ia sedang ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan. Kami berempat langsung menuju Kampung Baru, hunian yang berdiri di atas air. Kenanganku kembali pada suku Bajo di Desa Bajo, Halmahera Selatan. Kak Fitri adalah anggota Mapala Cadas.com yang lain, tubuh imutnya tidak mengesankan bahwa ia bersuara menggelegar. Andy yang pernah menceritakan ini padaku. Kami disambut hangat oleh Kak Fitri yang konon ayahnya adalah ketua RT setempat. Dari desas-desus yang kudengar, kakak ini lah yang sering menampung anak-anak sekret yang kelaparan (haha). Tidak tanggung-tanggung, kami pun turut meramaikan lomba makan kerupuk disana. Setelah lelah berteriak-teriak (aku diam saja sih), Kak Fitri mengajak kami untuk naik boat ke ujung kampung lain. Dan boat ini adalah kapal pribadi milik keluarganya. Kami melewati beberapa kapal besar yang berpatroli di tengah perairan, tak luput ada kapal minyak lepas pantai. Perjalanan di atas air yang seru! Tapi Bang Nihil mabuk. Mapala macam apa ini? 😀

IMG_20150817_125215
Anak-anak Kampung Baru berebut foto dengan Neus
IMG-20151001-WA0001
Ki-ka: Aku, Bang Rahul, Neus, Kak Fitri, Bang Nihil

Perjalanan di Borneo bagiku harus segera berakhir, kami berempat pulang. Andy sudah mengomel-ngomel di bbm Bang Rahul, “Dimana kalian? Pesawatnya Monic jam berapa loh!”. dalam suasana genting ini, aku masih sempat belok ke Pasar Kebun Sayur dan Bang Rahul yang menenangkan Andy. Selepas berbelanja, kami kembali ke sekret dan aku mengangkut tas carrier bersiap pergi ke bandara. Sayonara Borneo dan teman-teman baruku! Terima kasih tak terhingga juga kepada Andy yang seharusnya kupanggil “bang” karena lebih tua tiga tahun diatasku.

IMG_20150817_172810
Foto terakhir di Bandara Sepinggan
IMG_20150803_174050
Saat di Bandung aku memberikan kenang-kenangan gantungan kunci clurit Madura untuk Neus dan ia memberikanku ini 🙂

Sebagai ucapan terima kasihku, aku berusaha mencarikannya pasangan karena aku khawatir orang sebaik dia sayang untuk dilewatkan oleh teman-teman terbaikku (wkwk). Catat: bukan aku, karena bagiku ia adalah abangku sendiri.

Alangkah bahagianya saat setahun kemudian, ia mengatakan akan menikah dengan orang yang tidak kalah baik hatinya. Tapi dia sudah berpesan jauh-jauh hari untuk tidak memberitahukan perihal pernikahannya pada anak-anak sekret. Ia berkata agar aku menginfokan kabar bahagia ini di detik ia akad nikah. Meski bertanya-tanya dalam hati, aku menurutinya. Is it kinda mapala’s love-hate relationship? Dan betul saat hari dia akad nikah, aku mengirimkan fotonya ke whatsapp Bang Rahul. Foto itu hanya foto punggung Andy yang kurasai gemetaran dari suara yang terdengar di depan penghulu. Sambil menyumpah-nyumpah tak lupa Bang Rahul (semoga) mengirimkan doa kepada Andy dan Pinki (haha). Sang pengantin perempuan adalah Pinki, ia pun teman yang sudah kukenal dan hidup selama empat bulan bersama di Halmahera Selatan kemarin. Selamat ya kalian berdua… ❤

1469040635883
Semoga sakinah, mawaddah, warahmah Andy dan Pinki!!!

 

Belajar Zuhud dengan Menjadi Kaya

Lagi-lagi mungkin pemandangan ini luput bagimu, tapi tidak bagi seorang pendiam (baca: pengamat) bagiku. Dalam hati aku tidak menghendaki membanding-bandingkan dan menjadi pengamat hari ini, namun entah insting ini datang begitu saja.

Siang itu hari Minggu aku mengantarkan seorang teman ke BEC (Bandung Electronic Center). BEC adalah kiblat kemajuan gadget di Bandung, tidak heran jika Cholid yang tinggal di Pongkor, Bogor rela jauh-jauh kesini. Ia dititipi adiknya yang tinggal di Solo untuk membelikan Samsung Notebook Galaxy Pro 7, terdengar mahal bukan dari namanya saja? Tapi sebelum bersyak wasangka terlalu jauh, Cholid ini termasuk salah satu temanku yang sederhana dalam berpenampilan. Bayangkan saja ia masih rutin mengkonsumsi kerudung bergo dalam berkegiatan sehari-hari diluar kantor. Ia berkata bahwa notebook yang akan ia beli untuk memenuhi kebutuhan desain adiknya yang seorang anak IT. Sedangkan di Solo, untuk mendapat barang ini ia harus inden hingga sebulan ke depan. Paham kan maksudku, ia memang tidak berlebih-lebihan.

Ia juga termasuk orang yang sangat efisien (baca: terlampau cuek). Ia tidak mengenal berbasa-basi dan selalu apa adanya. Itulah yang membuat aku senang berteman baik  dengannya. Terbukti siang itu, ia langsung menuju ke gerai ponsel paling depan yang tidak diragukan lagi keramaiannya. Aku membuntuti dari belakang. Ia bahkan seingatku tidak menanyakan harga notebook itu, tapi membaca dari daftar harga yang tergeletak di meja. Ia hanya menanyakan ke petugas toko apakah barangnya ada. Setelah sang penjaga toko mengangguk, ia pun meyetujui. Transaksi dilakukan dan uang tujuh juta rupiah langsung berpindah tangan.

Sambil menunggu Cholid memeriksa dan mencoba kelengkapan notebooknya, radarku bekerja. Disebelahnya datang sepasang suami istri paruh baya dengan baju yang tidak bisa dibilang murah. Sang suami memakai polo shirt putih necis, celana jeans yang licin, dan bergesper. Sang istri mengenakan make up lengkap membuatnya terlihat segar, baju dan kerudung hijau agak mencolok, rapi, dan wangi. Awalnya mereka hanya datang untuk menanyakan kerusakan kepala power bank  mereka yang berwarna keemasan. Ma penjaga toko mulai meladeni dan tanya jawab antar mereka terjadi. Ia menawarkan penggantian kepala power bank yang rusak dengan yang baru kualitas terbaik. Suami istri itu mengiyakan. Setelah aku menengok sebentar ke Cholid yang masih merakit bluetooth keyboard ke notebooknya, aku ketinggalan percakapan mereka. Aku tidak menguping, hanya saja arah mataku lurus ke tempat mereka duduk. Tiba-tiba mereka sudah ditawari dua versi ponsel terbaru Oppo. Secepat kilat sesudah membanding-bandingkan fitur (bukan harga) sang ibu mengiyakan ponsel yang dipegang Mas penjaga toko di tangan kirinya. Barulah aku tahu hal terakhir yang mereka tanyakan adalah harganya. “Oh kalau yang ini Rp 5.999.000, Bu.” kata Mas penjaga toko tersenyum sumringah. Mengingat setidaknya ia akan mendapat kompensasi atas penjualan yang melebihi target di hari itu. Kali ini perhatianku sedikit tersedot kesana, kedua orang itu masih terlihat sangat romantis untuk umur setua mereka. Sesekali bahkan mungkin aku ikut tersenyum merasakan kehangatan mereka. Sang istri kini sangat bersemangat menanyakan ini dan itu kepada Mas penjaga toko. Sang suami kini sibuk dengan telpon di ponselnya, nampaknya ia memang orang penting. Dan aku tahu kemudian setelah berpapasan melewatinya, ia semacam petinggi di militer. Jadi kebutuhan ponsel termutakhir bukanlah barang mewah jika itu mampu memudahkan mobilitas dan ruang gerak mereka.

Pikiranku berlari kencang ke mama dan papa, dimana kami (aku dan adikku, red.) hanya akan dibelikan gadget jika yang lama telah rusak. Maksudku, aku pikir semua orang seperti itu. Sederhana dan bersahaja. Namun hari ini hipotesis itu terbantahkan dengan dua kejadian yang baru saja aku saksikan sendiri. Mereka membeli tanpa menawar. Ya, memang setahuku juga disini tidak ada tawar menawar. Dalam hati aku jadi tergelitik, “Bagaimana mungkin mama selalu menawar di setiap kami belanja?”. The power of ibu-ibu mungkin ya…

Selesai dengan urusan satu, kami beranjak ke urusan lain. Cholid akan membelikan screen protector untuk notebook adiknya. Setelah kami thawaf sebanyak tak terhingga dari satu toko ke toko lainnya, hasilnya nihil. Akhirnya ada salah seorang Cici di toko aksesoris kesekian yang kami datangi menyarankan untuk naik ke lantai atas. Masuk akal juga karena notebook yang baru Cholid beli ukuran layarnya 12 inch. Ukurannya sama dengan layar netbook-berumur-6-tahunku di kosan. Kami berterima kasih dan segera menuju ke lantai atas. Benar saja pada sowan di toko kedua, ia sudah menemukan barang yang ia cari.

Sambil menunggu pemasangan screen protector, kami duduk di dalam toko yang tidak seramai tadi, mengambil napas dalam-dalam. Lelah. Lima menit berlalu, ada seorang ibu datang menanyakan hard disk kepada Mas penjaga toko yang sedang tidak melayani kami. Ibu ini terdengar sama kewalahannya dengan ibu di toko ponsel tadi tentang topik gadget. Ya aku tahu, ini topik yang sangat anak muda. Lalu beliau memanggil anakya, anaknya datang disusul dengan suami serta anak bungsunya. Anak sulungnya langsung mendominasi percakapan, memotong percakapan ibu dan Mas penjaga toko. Proses tanya jawab berlangsung seru, aku masih mengamati. Akhirnya anak yang aku taksir masih SMA atau baru masuk kuliah itu memilih untuk membeli hard disk 500 Mb. Halo dunia! ternyata masih ada orang yang membeli hard disk seukuran itu. Masih ada! Sebelum bertransaksi, ia menanyakan spesifikasi lengkap, perbandingan dengan merek lain, dsb. Tidak kalah sang ibu pun masih berusaha menawar harga lima ratus ribu itu. Kali ini aku tidak lagi melirik, aku beranikan diri untuk memandang keluarga itu. Sang ibu berbaju rapi, berjilbab panjang namun warnanya terlihat dimakan waktu. Sang bapak berwajah teduh dengan sorot mata yang kuat dan senyum tertahan. Mungkin beliau merasa belum cukup banyak memberikan materi untuk keluarganya, termasuk kali ini. Dari penampilan sekilas aku menyimpulkan, bahkan untuk membeli hard disk seukuran itu pun mungkin kedua orang tua ini amat sangat keras usahanya. Bisa jadi mereka mengorbankan kebutuhan-kebutuhan lain sebulan ke depan demi anaknya dapat menikmati penyimpanan lebih besar untuk tugas-tugas akademiknya. Bisa jadi.

Dari kedua keluarga yang aku temui tadi aku belajar bahwa hidup ini begini adanya. Ada yang rezekinya berlimpah dan ada yang cukup. Sebagaimana materi terakhir yang aku dapat di liqa’  adalah quwwatul maal, jadi semua ini serba berhubungan. Memaknai lagi makna zuhud bukan berarti selalu dalam keadaan tidak punya, tapi mewah dan bermanfaat insya allah tetap berkah. Sedangkan dalam keadaan rezeki secukupnya, jika kita mampu terus bersyukur, janji-Nya rezeki kita akan ditambah. Tapi ingatkah kalian, bahwa rezeki tidak semata berbentuk materi?

Tujuh Belasan di Borneo, 2015 (1)

Tulisan ini akan berlatar tahun lalu, di Pulau Borneo, tepatnya di Balikpapan, Kalimantan Timur.

Setelah kabur ke Halmahera Selatan, Maluku Utara selama 4 bulan dari TA datang lagi godaan yang sama setahun kemudian. Tanggal 14 Agustus 2015 aku bertolak ke Balikpapan atas hasutan salah seorang teman, Andy. Panggil saja dia big bro selama aku di Halmahera Selatan, dia yang sering mengajak berburu makanan gratis dan paling hobi meledekku diantara teman-teman lain. Ah jangan lupa orang iseng lainnya bernama Fajar, jadilah kami bertiga geng sok asik dengan aku anggota ter-bully-nyaSeusai ekspedisi pun, Andy adalah orang yang paling cerewet menanyakan kapan lulus secara virtual namun ancamannya terdengar real. Terhitung mulai pertengahan Juni 2014, aku langsung tancap gas untuk menyelesaikan TA dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Namun takdir berkata lain, hingga setahun kemudian aku belum mendapat persetujuan untuk mengakhiri babak drama menuju sarjana ini. Selain menghasut untuk cepat lulus, Andy juga mengompori aku untuk singgah ke tempatnya sesekali agar tidak stres TA berkepanjangan. Lebay.

Gayung bersambut, aku bertemu seorang mahasiswa pertukaran dari Spanyol (tapi ia lebih suka disebut warga Catalan, baca konflik politiknya!) yang sedang magang di lab mikrobiologi, tempat aku mengerjakan TA tahap kesekian. Meski disana ada Kak Fitrie yang notabene sudah akan S2, ia menyerahkan Neus untuk aku ajak bekerja. Dalam kata lain Kak Fitrie memang mengakui dia tidak fasih dalam berbahasa Inggris dan pusing untuk menerjemahkan pekerjaan tesisnya kepada Neus. Hmm.. Singkat cerita ternyata Neus juga anak main yang sangat antusias mendengar aku berceloteh panjang lebar tentang pulau-pulau eksotis di Indonesia. Salah satunya adalah Pulau Halmahera yang baru saja aku kunjungi setahun yang lalu. Neus begitu tertarik mendengar cerita-ceritaku, meski aku sedikit kepayahan berbahasa Inggris karena sudah lama tidak menggunakannya. Sesekali kami tertawa karena tidak menemukan padanan kata yang tepat untuk beromunikasi dengan bahasa asing itu. Alhasil kami berkomunikasi verbal dengan tangan seperti tuna wicara.

neus
Neus and I at Microbiology Laboratorium, School of Pharmacy ITB

Dan… ia menyetujui saranku untuk tidak berkunjung ke Bali karena masih banyak private beach yang indah selain Pulau Dewata. Aku menjadi penghubung (baca: agen wisata) seorang bule Catalan ke Pulau Halmahera. Setelah berkomunikasi panjang lebar dengan seorang teman ekspedisi yang tinggal di Ambon, perjalanan mengalami titik pelik. Demi tingginya biaya yang dibutuhkan untuk menyeberang ke pulau dimana tinggal masyarakat tradisional Maluku, perjalanan dibatalkan. Neus bersedih, aku bingung. Akhirnya dengan sedetik persemedian, aku menawarkan Neus untuk mengalihkan rencana liburanya ke Kalimantan, dengan bonus aku bisa menemaninya kesana. Ia melonjak gembira. Dan perjalanan di Borneo dimulai…

Hari #1 – 14 Agustus 2015

Aku bertolak dari Bandara Soekarno-Hatta pukul 08.00 menuju Bandara Sepinggan. Malam sebelumnya aku menginap di rumah teman di daerah Kebon Jeruk dengan perkiraan biaya lebih murah menuju bandara. Namun sebagai pendatang baru dunia pertaksian, aku harus merogoh kocek Rp 100.000 di pagi itu. Apa bedanya dengan naik damri eksekutif dari Bandung pagi itu juga? Aku hanya bisa mengelus dada. Tak apalah yang penting sebentar lagi aku bisa melihat dunia sejenak dari kepenatan dunia laboratorium.

INI ADALAH SOLO TRAVEL PERTAMAKU KELUAR PULAU JAWA. I’M SO EXCITED!!!

Aku menggendong tas carrier 30 liter dan dry bag 5 liter yang membuat aku masih lincah melangkah di sepanjang bandara domestik itu. Di ruang tunggu pun suasana ukiran khas Kalimantan sudah menyambut. Aku sibuk memotret-motret, orang lain sibuk mendengkur-dengkur sambil menunggu jam keberangkatan. Saat di pesawat aku menikmati setiap hamparan biru dan hijau bergantian dari ketinggian yang tak bisa kutaksir itu. Lagi-lagi aku tersenyum sendiri. Rasanya aku tidak ingin berkedip sedetikpun untuk melihat keindahan di atas awan ini, aku norak ya?

IMG_20150814_062737
Memotret langit-langit ruang tunggu Bandara Soekarno-Hatta

Pesawat melipir di atas lautan biru beberapa lama, baru hamparan berganti warna hijau. Beberapa lama setelahnya. Aku hanya bisa menebak-nebak kapan pesawat akan mendarat sempurna. Aku juga mengamati ceruk-ceruk gersang, yang aku tahu kemudian dari teman-teman di Balikpapan bahwa itu adalah bekas tambang. Pesawatku telah menyentuh tanah Bandara Sepinggan, aku turun bersama semua harapan dan keingintahuan tentang dunia baru. Panas! Itu impresi pertamaku. Andai! Itu impresi keduaku melihat bandara terbaik kedua se-Indonesia ini. Sayang waktuku terlalu singkat untuk mengabadikan tiap jengkal bandara internasional itu. Semuanya serba berkilauan kaca. Bersih. Gilang-gemilang dengan tembok silver dan lantai marmer indah. Aku menuruni eskalator dan menyalakan mode normal dari mode pesawatnya. Akhirnya aku paham apa fungsi mode pesawat. Dan itu dia si Andy! Dia tidak berubah dari setahun yang lalu, tetap hitam, berantakan, agak gondrong, dan tetap hobi meledek.

Perjalanan bersama tour guide dadakan dimulai…

IMG_20150814_113034
Touchdown Sepinggan, bandara terbaik kedua di Indonesia

Kami melewati Bandara Sepinggan yang lama, kesan tua dan lusuh langsung terlihat dari penampakan kayu-kayu penyangganya. Aku teringat ruang tunggu Bandara Soekarno-Hatta tadi pagi. Setelah beberapa detik menyiapkan mental untuk menantang terik mentari tengah hari Balikpapan, kami menuju masjid Pertamina di kompleks Pertamina. Sepanjang kompleks itu berjajar reservoir minyak berukuran 10.000 liter. Seingatku Andy bercerita panjang lebar tentang minyak. Sebagai sarjana teknik perminyakan ia sangat fasih, namun aku yang terlampau kagum akan pemandangan baru atau terlalu malas berpikir membuat semua yang ia sampaikan menguap bersama udara panas kota Balikpapan.

Hari itu hari Jumat, sementara Andy shalat Jumat aku sibuk kegerahan menunggu di kantin masjid. Setelah itu perjalanan dilanjutkan ke Klandasan, makan siang coto Makassar yang aku baru kedua kali memakannya. Mungkin karena terik Balikpapan yang tidak tertahankan, es jeruk yang aku pesan terasa sebagai es paling enak sedunia. Perut yang sudah terisi membawa kembali tenaga yang sempat terkuras tadi, hingga perjalanan dilanjutkan cukup jauh ke Kilometer 8, Balikpapan Utara tempat teman-teman baru akan segera kutemui. Perlu dicatat bahwa jalan-jalan di Balikpapan cukup menantang, naik turun seperti roller coaster. Jarang ada lampu merah dan macet, jadi sepanjang perjalanan memang hanya jalan. Paham kan maksudku?

IMG_20150814_121225
Klandasan
monc
Bocah kelaparan
IMG_20150814_115248
Coto Makassar rasa Balikpapan

Sebelum mencapai sekret, aku diajak Andy ke Pusat Oleh-oleh Etnik Pasar Kebun Sayur. Anehnya meski namanya Kebun Sayur, pasar itu sama sekali tidak menjual sayur mayur. Seperti menemukan surga justru disini kutemukan berbagai macam pernak-pernik mulai gantungan kunci, gelang, kalung, cincin, kain songket, kain batik cap, sarung Samarinda, tas dari kulit batang pohon, tas rajut, dll. Aku akan betah berdiam lama-lama di pasar ini tanpa membeli apapun. Untung masih ada orang yang menyadarkanku agar tidak silau akan dunia. Setelah galau kesana-kemari dan akhirnya balik ke toko pertama kain batik, aku pulang dengan tawa lebar lima jari dan beberapa oleh-oleh di tangan.

IMG-20150814-WA0008
Bocah yang kegirangan menemukan barang-barang etnik, maaf nampang mulu -_-

Kisah berlanjut di kompleks sekretariat. Sebagai orang introvert aku memang susah bersosialisasi, lebih menyenangkan bagiku menatap layar ponsel saat bersama orang-orang baru yang belum aku kenal. Syukurlah, Andy adalah senior (angkatan 2007), sehingga saat kami sampai di sekretariat Mapala Cadas.com, junior-juniornya cukup welcome terhadapku. Tetapi sejauh aku berkenalan dengan mereka, aku pikir sikap mereka memang baik bukan karena senior ataupun junior. Mereka mudah akrab, tidak seperti aku ckck. Dari sinilah aku bertemu teman-teman baru, Eka, Ranum, Cepot, Bang Rahul, Bang Nihil, Layat, Mayan, Gajah, Obor, Ale, dll. Oya nama mereka adalah nama kesayangan dari dan bagi para anggota Mapala Cadas.com. Beberapa orang diantara mereka pun aku tidak tahu nama aslinya sampai sekarang. Maafkan Monic, ya!

Sore menjelang malam itu aku sudah cukup nyaman berada diantara mereka, apalagi beberapa adalah orang Jawa. Nikmat Tuhan mana lagi yang kau dustakan? Demi lebih berbaur dengan mereka, aku mencoba membantu di daerah dapur saat menyiapkan makan malam. Membantu satu dua. Membantu sekadarnya. Namun dari caraku memegang penggorengan, akhirnya Eka yang maju menggantikan. Ternyata sebelas duabelas denganku, Eka juga tidak bisa memasak. Perempuan Jawa macam apa kami? Haha. Akhirnya Cepot yang turun tangan, juga Gajah. Kami memutuskan duduk saja di meja dapur sambil mengobrol. Aku mengamati ada teman-teman yang duduk di hammock, ada pula yang duduk melingkar di meja makan ala-ala (buatan sendiri mungkin, red.) sambil menggenjreng gitar. Lumayan live music pikirku. Makan mlam hari itu berjalan menyenangkan dengan aku tetap sebagai subjek yang dilempari banyak pertanyaan dan sedikit di-bully hmm…

PANO_20150814_181226
Dapur sekaligus halaman belakang sekretariat teman-teman Mapala Cadas.com

Dalam hati ada rasa sungkan karena aku bukan anak mapala, namun disambut seperti anggota mapala oleh mereka. Bahkan, mereka menyerahkan sekretnya buatku. Para lelaki itu tidur di ruangan sebelah dan entah mungkin mereka tidak memiliki kosan (?), sedangkan aku diberi ruang tidur sekret nyaman dengan kasur spring bed-nya. Sampai sekarang aku juga tidak paham bagaimana bisa sekret organisasi ada kasur sebagus itu di dalamnya. Hari pertama yang melelahkan mengantarkanku utuk tidur sangat cepat sedetik setelah aku merebahkan diri. Oya, belum kukatakan bahwa Neus berangkat tanggal 16 malam dari Surabaya. Saat aku di Balikpapan saat itu, dia sudah mengatakan kepadaku bahwa ia akan ke Rinjani.

Hari #2 – 15 Agustus 2015

Setelah Subuh aku tertidur lagi dan terbangun total oleh bau roti bakar dari dapur belakang sekret. Hmm.. tamu macam apa aku, bangun kesiangan. Melangkah ragu-ragu aku ke dapur dan semua mata menuju ke arahku. Aku perempuan seorang diri dan yang memasak justru para lelaki itu. Semoga mereka memaafkan tamunya ini.

Perjalanan dimulai dari Bukit Bangkirai yang cukup jauh. Tidak, aku ralat: jauh! Bukit Bangkirai sudah masuk wilayah Kutai Kartanegara. Untuk mencapainya, kami harus menempuh sekitar 1 jam bersepeda motor, tanpa lampu merah dan tanpa macet. Jadi, memang jauh. Bukit Bangkirai adalah sebuah bukit di dalam hutan pohon bangkirai (Shorea laevifolia) dan di lima pohon yang cukup tinggi dibangun kanopi bercabang setinggi 150 tangga. Perjalanan yang melelahkan namun sangat mengesankan melihat dan menyeberangi langsung jembatan kanopi pertama dan (mungkin) satu-satunya di Indonesia.

Sepulang dari Bukit Bangkirai, kami menyantap bakso favorit Andy dan Kak Fitri. Siapa itu Kak Fitri? Kak Fitri adalah senior Andy di mapala yang memiliki usaha kafe di kota Balikpapan, anggap sekret adalah tepian Balikpapan. Kami mampir kesana setelah sbelumnya shalat dulu di Masjid Akbar Balikpapan. Nice one!

IMG_20150815_200616_1
Masjid Akbar Balikpapan

Susahnya Jadi Orang Susah

Usir saja aku!

Aku hanya memenuhi tempatmu berjalan kaki

Atau berfoto selfie

Aku pedagang kaki lima

Yang tidak tahu apa itu estetika

Hanya tau menyambung nyawa

Dengan berjualan rokok dan aqua

Ambil saja barang daganganku!

Aku hanya menjalankan pekerjaanku

Berjualan lauk di sepetak warung itu

Yang tiba-tiba kau gusur

Dengan dalih toleransi yang mahsyur

Oh, bolehkah aku bertanya..

Ini Indonesia?

Ini negara Islam atau negara islami?

Maaf aku hanya pedagang buta aksara

Tidak tahu tulis dan baca

Hanya tahu menyambung nyawa

Coba dengar degup jantungku!

Ah akhirnya kau melihatku juga

Para Pamong melirik ke arahku juga

Aku pedagang asongan yang bersembunyi

Di balik angkot dan bus damri

Aku tidak paham

Mengapa dunia begitu kejam?

Tidakkah derajat manusia sama

di mata Tuhannya?

Tapi aku merasa kerdil

Di bawah para pembawa bedil

Aku pikir aku orang paling bodoh

Aku yang tidak pernah bersekolah adalah orang paling bodoh

Ternyata kutemukan orang yang lebih bodoh

Dan kutemukan bodoh bukan hanya karena pendidikan

Bodoh juga berarti hatinya telah mati

Bagaimana bisa aku bertahan hidup jika asongan disita?

Dan tak ada uang satu dua?

Memang susah ya, jadi orang susah…

Dan aku menjadi lebih reflektif terhadap hidup sejak belajar tasawuf, Agustus 2015. Aku tersadar bahwa Islam bisa seluwes, seindah, dan selembut ini. Maksudku hubungan Rabb dan hambanya, sesama hambanya, pun hambanya dengan seekor semut yang kasat mata.

Adil dan Suci dalam Pikiran

Seperti baru kemarin rasanya aku mendengar kalimat dari sastrawan legendaris Indonesia: Seorang terpelajar sudah harus adil sejak dalam pikiran. Sebuah goresan tajam pena Pram di roman “Bumi Manusia”-nya. Setelah kureka ulang ternyata sejak sembilan tahun silam (2007, red.) aku sudah tak asing lagi dengan kalimat ini: Mars Smalane. Smalane suci dalam pikiran, Smalane benar jika berkata, Smalane tepat dalam tindakan, Smalane dapat dipercaya. Bagaimana, sama tidak?

Kalimat itu terngiang makin keras saat kualami peristiwa beberapa hari yang lalu dari membaca buku dan berhadapan langsung…

Pada abad 12, Arok mencuri upeti dari Tumapel yang akan diserahkan ke Kediri untuk akhirnya dikembalikan ke kawula Tumapel. Pada abad 14, Raden Said alias Sunan Kalijaga mencuri hasil bumi di kerajaannya sendiri untuk dibagikan kepada rakyat miskin. Pada abad 21 ini, aku bertemu dengan Mas Al yang membangun masjid dan yayasan pendidikan dari hasil berjualan minuman keras dengan teman-temannya. Aku terhenyak sejenak.

Aku sempat membela-bela Arok dan Raden Said atas kepahlawanannya pada rakyat kecil. Tapi kali ini kenapa hatiku sulit berkompromi atas kebaikan yang dilakukan Mas Al? Apa perbedaan mereka bertiga? Apakah aku mulai tidak adil dan tidak suci dalam pikiran?

Aku sama sekali tidak menghakimi perbuatan Mas Al yang sekilas terlihat sama sekali salah. Minuman keras itu akhlak madzmumah. Tapi mendirikan masjid dan yayasan pendidikan akhlak mahmudah. Lantas mana yang lebih berat timbangannya? Aku merasa tidak pantas menuduh akhlak sosial seseorang berdasarkan kedangkalan ilmuku. Dan bahkan aku pun mungkin tidak lebih tinggi derajatnya di mata Sang Pencipta daripada Mas Al. Hanya Sang Maha Adil yang pantas menilai hamba-Nya. Maka dari Mas Al aku belajar bahwa selama ini hatiku masih tinggi, masih terlingkup kabut “aku sudah alim”. Tapi apa yang sudah kuperbuat untuk sesama jika dibanding ” kealiman” Mas Al yang berdampak besar bagi sesama. Membangun masjid dan mendirikan yayasan pendidikan bukan suatu hal yang hadir dalam pikiran kemarin sore, dari ceritanya ia benar-benar Sang Pencari. Ia berkata bahwa setelah banyak uang lalu apa? Ya inilah muaranya, yang tentu diucapkan dengan banyak imbuhan f*ck, sh*t, dan d*mn!

Semoga amal kebaikan mereka diterima oleh Allah…